Senin, 09 Januari 2017

Biarkan Hatiku Berlatih Ikhlas Melepasmu, Agar Suatu Saat Kau Tau Rasaku Pernah Tulus Padamu

Cinta adalah dia yang dulu bersemayam dalam jiwa, rindu adalah ruang saat aku menginginkanmu, kebersamaan adalah hal yang tak ingin terlewatkan dan kini jarak adalah sekat yang memaksaku tak mendekat, membuatku tak ingin mengingat, rasa sakit yang kian mencuat karena luka yang menyayat. Dan aku tak ingin lagi terpikat.

              Untuk siapapun yang telah lama memendam rasa, yang selalu menyebutnya dalam doa, yang sulit tuk sekedar bertegur sapa ataupun mengungkapkan rasa. Bukan berarti waktu yang dihabiskan untuk mencintainya atau menyayanginya terbuang sia-sia. Tidak. Mungkin tak terlihat secara nyata, namun percayalah pada kekuatan doa. Waktu demi waktu terus saja berjalan seperti itu, tak ada perubahan tak ada peningkatan, yang ada rasa makin tak tertahan. Kesabaran memang tak berbatas, namun kejenuhan pasti akan terpintas. Di ujung, rasaku telah menunggu keputusan, akan kubawa  kemana perasaan ini. Ungkapkan atau Lupakan?      
              Orang berkata, mencintai tak harus memiliki adalah suatu hal mustahil. Hati berkata mencintai bukan sekedar hanya ingin memiliki, melainkan berbagi rasa ini, perhatian ini, sayang ini. Fikiran berkata mencintai adalah saat dimana otak mencerna hal-hal tak masuk akal menjadi masuk akal dan aku berkata mencintai adalah seberapa intens namamu selalu kuingat dalam doa, bayangmu selalu mampir setiap waktu. Ah, biarkan aku mendefinisikan mencintai versiku sendiri, bukan orang lain.
     
  Setahun berlalu, dua tahun berlalu, tiga tahun berlalu, dan bertahun-tahun berlalu tapi hatiku masih memberikan ruang untuk sosokmu. Aku tak tahu sampai kapan aku dapat bertahan, sampai kapan aku tetap menahan. Aku tak perduli, aku tutup mata melihat kehidupan asmaramu dengan orang lain, aku tutup telinga mendengar cibiran tentangmu oleh orang lain, tapi hatiku peka terhadap hal-hal kecil darimu. Hatiku telalu peka melihat beban yang kadang terlihat di wajahmu, hatiku peka ketika hadirmu memberikan warna semu dalam hidupku, hatiku peka bahwa kamu telah terukir dalam buku takdir menjadi bagian dalam hidupku.

         Aku yang selalu merindumu dalam sujudku, aku yang tak pernah lupa menyelipkan namamu dalam setiap doaku, aku yang selalu berimajinasi menyentuh bayanganmu. Aku yang kini memutuskan untuk melepaskanmu. Bukannya aku tidak sabar, aku hanya sadar. Hatimu ada yang menggerakkan, Tuhanmu. Aku tak ingin lagi membiarkan hatiku hanya untukmu, biarkan hatiku berlatih ikhlas melepasmu. Biarlah doa-doa itu tercatat dalam buku malaikat, yang tau bahwa kau tak mudah terpikat. Biarlah Tuhanku yang mengungkap rasaku padamu, 

Jingga Tak Pernah Gagal membuat Senja Jatuh Cinta


Bila tak sekalipun namamu terucap dalam bibirku, sanggupkah kau untuk bertanggung jawab terhadap semua namamu yang membuat sesak di hatiku. Seberapapun aku berusaha menghindari, sebesar itu pula rindu menghampiri. Aku tak tau sejak kapan wajahku merona, bahkan saat  membayangkanmu saja aku sudah terpesona. Ibarat warna, kau adalah jingga yang tak pernah gagal membuat senja jatuh cinta.


                Jingga adalah cerita di ujung senja, kehadirannya selalu membuat indah siapa saja yang memandangnya. Menyimpan banyak cerita, pengantar mentari tuk benamkan diri, penjemput petang berhias rembulan dan para bintang. Bila kau jingga, kau adalah labuhan ketika hariku berat, kau adalah alasan mengapa aku butuh senyuman, kau adalah warna yang memberiku hidup lebih sempurna.

                Rasa tak pernah salah, rasa tak pernah benar, rasa bukanlah pemenang dan rasa bukanlah perenggang sebuah hubungan. Bolehkah bila aku hanya memiliki rasa tanpa harus merasa bersalah, merasa benar, merasa jadi seorang pemenang ataupun merasa jadi seorang perusak hubungan? Bolehkah jika aku hanya sekedar memiliki rasa tanpa harus diungkapkan, seakan tak terjadi apa-apa.

                Kamu bukan prioritas dalam hidupku, biarkan aku sibuk untuk tak memikirkanmu karena kau tahu ketika aku selesai, orang pertama yang akan terketik dalam pikirku adalah “k-a-m-u”. Tak usah kau memintaku untuk melupakan karena aku tak memiliki rasa yang beralasan, tak usah kau memintaku untuk pergi karena nanti rasa itu akan berhenti sendiri, tak usah kau memintaku untuk merindu karena tanpa kau minta namamu selalu muncul menyesakkan memoriku, tak usah kau memintaku untuk menunggu karena waktu yang akan memberi jawaban kepadaku.

                Terima kasih, kau tak pernah gagal membuatku jatuh cinta.  Senja yang hadir bersama jingga memang indah, namun bisa apabila Tuhan merencanakan yang berbeda?


Ini adalah tulisan saya pribadi dan pernah saya posting di hipwee atas nama author saya sendiri :)