Bila tak sekalipun namamu terucap
dalam bibirku, sanggupkah kau untuk bertanggung jawab terhadap semua namamu
yang membuat sesak di hatiku. Seberapapun aku berusaha menghindari, sebesar itu
pula rindu menghampiri. Aku tak tau sejak kapan wajahku merona, bahkan
saat membayangkanmu saja aku sudah
terpesona. Ibarat warna, kau adalah jingga yang tak pernah gagal membuat senja
jatuh cinta.
Jingga
adalah cerita di ujung senja, kehadirannya selalu membuat indah siapa saja yang
memandangnya. Menyimpan banyak cerita, pengantar mentari tuk benamkan diri,
penjemput petang berhias rembulan dan para bintang. Bila kau jingga, kau adalah
labuhan ketika hariku berat, kau adalah alasan mengapa aku butuh senyuman, kau
adalah warna yang memberiku hidup lebih sempurna.
Rasa
tak pernah salah, rasa tak pernah benar, rasa bukanlah pemenang dan rasa
bukanlah perenggang sebuah hubungan. Bolehkah bila aku hanya memiliki rasa
tanpa harus merasa bersalah, merasa benar, merasa jadi seorang pemenang ataupun
merasa jadi seorang perusak hubungan? Bolehkah jika aku hanya sekedar memiliki
rasa tanpa harus diungkapkan, seakan tak terjadi apa-apa.
Kamu
bukan prioritas dalam hidupku, biarkan aku sibuk untuk tak memikirkanmu karena
kau tahu ketika aku selesai, orang pertama yang akan terketik dalam pikirku
adalah “k-a-m-u”. Tak usah kau memintaku untuk melupakan karena aku tak
memiliki rasa yang beralasan, tak usah kau memintaku untuk pergi karena nanti
rasa itu akan berhenti sendiri, tak usah kau memintaku untuk merindu karena
tanpa kau minta namamu selalu muncul menyesakkan memoriku, tak usah kau
memintaku untuk menunggu karena waktu yang akan memberi jawaban kepadaku.
Terima
kasih, kau tak pernah gagal membuatku jatuh cinta. Senja yang hadir bersama jingga memang indah,
namun bisa apabila Tuhan merencanakan yang berbeda?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar